Srimulyani : Defisit APBN hingga akhir April Rp101,04 triliun

Srimulyani : Defisit APBN hingga akhir April Rp101,04 triliun

Jumat, 17 Mei 2019, 17:38
Foto :Instagram @smidrawati

Suara.id -Menteri keuangan Srimulyani  menyampaikan konferensi pers dan juga sekaligus buka puasa bersama dengan awak media ekonomi di Kementerian Keuangan RI pada Kamis 16 Mei 2019. Dalam akun Instagramnya @smindrawati, iya menyampaikan bahwa pelaksan UUaan APBN sampai dengan bulan April 2019 dalam keadaan aman.

Perlambatan perekonomian dunia di tahun 2019 yang dipengaruhi berbagai isu global, seperti perang dagang AS-Tiongkok dan pelemahan harga komoditas dunia, turut mempengaruhi kinerja ekspor maupun impor Indonesia di awal tahun 2019 ini. Namun demikian, stabilitas perekonomian dalam negeri masih terjaga sehingga mampu menjaga momentum perbaikan kinerja perekonomian. 

Dalam hal ini, pemerintah menerapkan strategi keuangan dengan berbagai kebijakan fiskal di sisi pendapatan, belanja, maupun pembiayaan untuk tetap menjaga momentum pertumbuhan.
Secara umum, pelaksanaan APBN 2019 masih dalam keadaan aman, dimana penerimaan negara masih tumbuh 0,5 persen didukung oleh, didorong oleh penerimaan perpajakan yang tumbuh positif sebesar 4,72 persen (yoy).

Di sisi belanja, melalui perbaikan pola belanja untuk menstimulasi perekonomian yang optimal, sampai dengan akhir April 2019 telah terealisasi Belanja Negara yang mencapai Rp631,78 triliun (25,7 persen dari pagu APBN 2019) atau tumbuh 8,4 persen (yoy).

Berdasarkan realisasi pendapatan dan belanja tersebut, realisasi defisit APBN hingga akhir April 2019 mencapai Rp101,04 triliun atau sekitar 0,63 persen terhadap PDB, dimana keseimbangan primer berada pada posisi negatif Rp18,44 triliun. 
Untuk menutupi defisit tersebut, realisasi pembiayaan yang telah dilakukan Pemerintah, khususnya yang bersumber dari pembiayaan utang sebesar Rp144,98 triliun. 

Hingga akhir April 2019, jumlah outstanding utang Pemerintah mengalami penurunan Rp38,86 triliun dibandingkan akhir bulan Maret 2019, sehingga berada pada rasio 29,65 persen terhadap PDB.

TerPopuler