Saudi Seharusnya masih punya kharisma Sebagai Negara

Saudi Seharusnya masih punya kharisma Sebagai Negara

Selasa, 26 Februari 2019, 14:18

Sesungguhnya apa yang dipersaksikan di tanah kelahiran Rasulullah SAW saat ini memang perlu dicermati secara jeli. Dicermati dengan memakai kacamata akal dan batin sekaligus. Dengannya mudah-mudahan dapat dipahami secara jeli dan dalam apa sesungguhnya yang sedang dan akan terjadi ke depan?

Sejak ditemukannya lahan-lahan minyak di semenanjung Arabia, khususnya Saudi Arabia, gaya hidup orang-orang Arab mengalami perubahan drastis. Dari kehidupan yang sederhana dan apa adanya menjadi kehidupan mewah, bahkan cenderung konsumeris dan hedonis.

Ketika mereka masih memiliki kehidupan yang sederhana itu, hidup mereka penuh nilai dan harga diri. Tapi ketika telah dicoba dengan kemajuan materi hidup itu tiba-tiba penuh dengan kepura-puraan dan kepalsuan.

Ini bukan bermaksud memburukkan orang lain. Demi Allah Sungguh banyak saudara-saudara Arab kita yang luar biasa iman dan Islamnya. Jauh lebih hebat dalam beragama ketimbang banyak di antara kita.

Penyebutan ini sekedar dimaksudkan untuk memberikan latar belakang pemahaman paradoks kehidupan yang sedang terjadi. Bahwa kemajuan terkadang juga menghasilkan keterbekangan. Kepintaran tidak jarang melahirkan kejahilan.

Di sebuah musim panas dua tahun lalu saya berkunjung ke Florida. Di tengah udara yang membakar itu saya masuk ke dalam sebuah toko untuk membeli minuman dingin.

Di sebuah rak saya melihat sebuah minuman dingin, kelihatan segar. Tanpa pikir panjang saya ambil dan bawa ke konter untuk membayar. Penjaga konter itu seorang wanita muda berambut pirang.

Mengejutkan ketika akan membayar sang wanita itu mengenali saya dan berkata: “are you sure you want this drink?” (Yakin mau minuman ini?), tanyanya.

“What is the problem?”, tanya saya. “This is an alcoholic drink” (ini minuman alkohol), jawabnya.

Segera saya tentunya mengatakan “no”. Tapi sambil tertawa wanita itu berkata: “kebanyakan yang membeli minuman ini adalah Arab visitors. And they don’t care”.

Karena terkejut saya tanya wanita itu: “dan Kenapa anda perhatian dengan orang Islam?”.

Ternyata dia adalah wanita keturunan Maroko dan Muslim. Hanya saja dia tidak memakai jilbab dan berambut pirang. Sehingga wajar saja kalau saya kira dia adalah wanita keturunan Eropa.

Kita kenal bahwa Saudi memang menganut paham agama wahabisme. Sebuah paham yang awalnya bertujuan membasmi penyelewengan riligius (syirik dan khurafat) yang marak ketika itu. Sayang di kemudian hari paham itu menjadi kendaraan bagi pemahaman agama yang blunder di abad modern.

Penafsiran agama wahabi atau pemahaman agama yang diakui sebagai pemahaman murni (puritanisme) saat ini justeru menjadi kendaraan gaya hidup materialisme dan hedonisme. Sebuah paradoks nyata. Dan khawatirnya ini pula yang sedang terlihat di tanah kelahiran baginda Rasul SAW saat ini.

Setelah mengalami ragam kritikan atas “rigiditas”, baik dalam pandangan agama maupun politiknya, saat ini Saudi ingin menyampaikan kepada dunia bahwa kini Saudi sudah mengalami reformasi.

Tapi reformasi itu ternyata juga mengalami kebablasan. Mentalitas teokratis Yang bersifat hitam putih tidak siap menerima lingkungan “kebebasan”. Akibatnya terjadi penangkapan masif mereka yang dianggap berseberangan dengan penguasa.

Peristiwa mutakhir adalah kematian atau tepatnya pembunuhan secara sadis seorang Wartawan senior, Jamal Kashogy. Diyakini oleh banyak kalangan bahwa pembunuhan itu tidak dapat dilepaskan dari kekritisannya kepada pemerintahan Saudi.

Kebebasan yang diberikan di satu pihak kepada kaum wanita untuk mengendarai mobil ternyata dapat dicurigai sebagai “taqiyah” semata untuk menutupi ragam pelanggaran HAM. Ribuan ulama dan aktifis saat ini sedang dipenjarakan di Saudi Arabia.

Mungkin yang paling menyayat “hati iman” adalah kenyataan bahwa Saudi Arabia memilih bergandengan tangan dengan Donald Trump. Menutup mata dari kenyataan bahwa secara domestik Donald Trump memperlakukan kebijakan anti Islam dan Muslim.

Tentu yang terpenting adalah diamnya Saudi sebagai negara yang harusnya masih punya kharisma di Timur Tengah terhadap kebijakan Donald Trump mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel.

Bahkan Saudi ada di baris terdepan menyerang dua wanita muda Muslimah yang baru terpilih menjadi anggota Kongres Amerika, Ilhan dan Rashida. Keduanya oleh Saudi dituduh sabagai anggota “Ikhwanul Muslimun”. Entah siapa sponsor di balik tuduhan itu. Yang pasti sangat menggerahkan umat Islam Amerika.

Juga baru dua hari lalu Pangeran MBS justeru membela China dalam kebijakannya yang refressif terhadap warga Muslim Uighur. Bahkan ikut memberikan pembenaran bahwa itu adalah hak China untuk memberantas radikalisme di negara mereka.


Penulis  Imam Shamsi Ali Presiden Nusantara Foundation

Saudaraku yang Allah muliakan. Jadilah bagian dari usaha dakwah kita di Amerika melalui pembangunan pondok pesantren pertama di bumi Amerika. Untuk donasi, dapat dilakukan melalui website: www.nusantaraboardingschool.com (klik support).

Atau transfer rekening:
Rek rupiah : 1240000018185
An. inka nusantara madani



TerPopuler