Kenapa Upaya Mengganti kata KAFIR Begitu Menegangkan? "Bagian akhir"

Kenapa Upaya Mengganti kata KAFIR Begitu Menegangkan? "Bagian akhir"

Kamis, 07 Maret 2019, 20:30

Syamsul Hidayat Daud,Mahasiswa Program Doktoral Eskisehir Osmangazi University Turkey
Tulisan ini merupakan sambungaan dari tulisan  tentang Kenapa Upaya Mengganti kata KAFIR Begitu Menegangkan? "Bagian awal"

Apakah kecurigaan seperti ini tidak berdasar?
Pilkada DKI adalah contoh gamblang dari kecurigaan ini : mengapa demikian ?

Partai politik yang jelas-jelas berbasis masa NU dan elit-elit nya jelas-jelas kader NU (PKB dan PPP) secara terang-terangan mendukung Basuki Cahya Purnama untuk menjadi calon Gubernur pada tahun 2017. Pada masa kampanye saat itu, Basuki Cahaya purnama begitu “mesra” meminta restu saat berkunjung ke kantor PBNU bersama partai PKB dan PPP.

Dari peristiwa ini umat “menangkap pesan” bahwa memilih pemimpin KAFIR (jenis tidak mentauhidkan ALLAH SWT dan tidak menerima kerasulan Muhammad saw) sebagaimana pemahaman umat yang meyakini dengan status hukum tidak boleh dan berdosa, dibolehkan menurut kalangan elit NU, meskipun sikap elit NU dan sikap resmi NU belum tentu demikian adanya, tetapi seperti itulah “pesan” yang ditangkap umat.

Selain faktor di atas, Fakta bahwa kejelasan sikap tokoh NU KH. Masdar F. Mas’udi untuk menjadi saksi yang meringankan Basuki Cahya Purnama alias AHOK pada kasus penodaan agama juga memancing memory kollektif umat.

Pada kasus AHOK, KH. Masdar F. Mas’udi memberikan kesaksian yang meringankan AHOK. KH. Masdar F. Mas’udi adalah Rois Syuriah PBNU 2015-2020 dan kebetulan pula masuk dalam tim sidang Bahtsul Masail yang memutuskan agar kata KAFIR diganti dengan kata MUWATHINUN atau WARGA Negara.

Sikap KH. Masdar F. Mas’udi ini, sudah terjadi sebelum sidang Bahtsul Masail NU 2019 dilaksanakan, dan sikap ini tidaklah berkaitan langsung dengan seruan untuk memilih sikap theologis dalam membolehkan memilih pemimpin KAFIR non muslim (jenis tidak mentauhidkan ALLAH SWT dan tidak menerima kerasulan Muhammad saw),Tetapi jangan salahkan memory kolektif umat jika mereka merangkai serpihan-serpihan peristiwa untuk menangkap “pesan” substantive di balik itu.

Tulisan ini tidak bermaksud memojokkan NU, dan saya sangat menghargai perasaan warga Nahdhiyin. Bagi saya, NU adalah elemen penting yang mendirikan Indonesia merdeka, jasa NU terhadap umat dan bangsa ini tak terkuantifikasi.Kami kader Muhammadiyah dididik agar memperlakukan NU sebagai saudara seperjuangan dalam membina kehidupan umat, bangsa dan Negara serta kemanusia universal.

Anggaplah tulisan ini bermaksud “menjembatani” “kekhawatiran dan kecurigaan” umat terhadap NU. Akan lebih bagus agar NU memberikan klarifikasi terang benderang terhadap segala kecurigaan yang ada.Semoga NU tetap jaya, menjadi garda terdepan dalam membumikan islam rahmatan lil ‘alamin.
Yalal wathon yalal wathon yalal wathon, hubbul wathon minal Iman, demikian penggalan mars NU mengingatkan kita.Awas HOAX, masa kampanye Pilpres HOAX berseliweran di setiap denyut peristiwa.

Penulis: Syamsul Hidayat Daud,Mahasiswa Program Doktoral Eskisehir Osmangazi University Turkey

TerPopuler