Identifikasi boraks dan formalin dengan metode Sederhana

Identifikasi boraks dan formalin dengan metode Sederhana

Rabu, 27 Februari 2019, 06:33

Makanan merupakan salah satu kebutuhan primer bagi manusia. Kebutuhan siswa akan makanan adalah faktor utama warung penjual makanan berkembang di lingkungan sekolah. Berbagai variasi dan rasa makanan tersedia dari makanan ringan (snack) sampai makanan yang mengenyangkan.

Faktor rasa yang sesuai dengan selera siswa, seperti gurih dan pedas, menjadi pilihan bagi para siswa untuk mengkonsumsi makanan tersebut. Padahal tidak semua makanan yang disukai itu merupakan makanan sehat karena mengandung bahan tambahan makanan yang berbahaya bagi tubuh. Boraks dan formalin memberikan efek samping apabila dikonsumsi .

Efek boraks dan formalin bagi kesehatan serta penggunaan boraks dan formalin berakibat buruk bagi iritasi saluran pernafasan, lacrimasi pada mata, penumpukan di hepar, diare, mual, neurotoksik, gangguan haid dan infertilitas, dan karsinogenik (kanker).

 Undang-Undang yang melarang penggunaan formalin sebagai pengawet makanan adalah Peraturan Menteri Kesehatan No 722/1988, Peraturan Menteri Kesehatan No 1168/Menkes/PER/X/1999, UU No 7/1996 tentang Pangan dan UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen. Hal ini disebabkan oleh bahaya residu yang ditinggalkannya bersifat karsinogenik bagi manusia.


 Memberikan edukasi  tentang bahan tambahan makanan khususnya boraks dan formalin diperlukan bagi siswa. Pembahasannya meliputi struktur boraks dan formalin, kegunaan boraks dan formalin, ciri-ciri makanan yang mengandung boraks dan formalin.

Identifikasi boraks dan formalin dengan metode sederhana bisa dilakukan dengan metode pelatihan bagi siswa agar mereka lebih selektif dan hati-hati dalam memilih makanan yang aman untuk dikomsumsi.

Siswa bisa diajarkan praktek identifikasi boraks dan formalin dengan metode sederhana. Untuk uji kandungan boraks menggunakan kunyit, tumeric paper, kulit buah naga dan tumeric paper . Untuk uji kandungan formalin menggunakan larutan KMnO4 dan getah papaya . Sampel yang bisa digunakan adalah tahu, kolang kaling, saus, bakso A, bakso B, bakso C, cumi, ikan asin, sosis, otak-otak, mi kuning basah, dan kerupuk.

Penulis :


Elfia Siska Yasa Putri, M.Si dosen Kimia di Fakultas Farmasi Dan Sains UHAMKA disarikan dari Laporan PKM

TerPopuler