Dari Panti Kukejar Matahari

Dari Panti Kukejar Matahari

Rabu, 27 Februari 2019, 12:07

Profil anak panti di mata umum adalah anak yang memiliki keterbelakangan ekonomi, pendidikan, atau bahkan psikologis.

Stigma ini tak mudah bagi anak panti.  Sebagian besar anak di panti sebenarnya masih memiliki orang tua dan bukan yatim piatu, namun karena keterbatasan ekonomi, orang tua tidak lagi produktif, atau memang dari daerah terpencil, menyebabkan anak-anak  berada di panti untuk mendapatkan pendidikan sekaligus mengejar cita-cita.

Yatim sendiri dalam konteks Majelis Tarjih dan Tarjih tidak hanya yatim biologis, tetapi dapat pula yatim psikologis, sosial, dan ekonomi. Artinya, perwujudan panti yang didasarkan pada teologi Al-Maun, khususnya Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Sumenep adalah semacam asrama untuk menyambung cita-cita anak-anak.

Buku Dari Panti Kukejar  Matahari adalah karya dan cerita nyata dari anak-anak PAY Muhammadiyah Sumenep yang disunting oleh salah satu alumninya, Mulyanto, guru SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya.

Di era digital, tak mudah mengajarkan pendidikan karakter pada anak-anak. Namun buku ini sarat dengan nilai dan pendidikan karakter. Kita bisa membayangkan bagaimana perasaan seorang anak yang dipanggil dengan anak orang utan di sebuah warung oleh seorang pria perlente.

Namun ketika ternyata sang pria perlente tak membawa dompet, justru anak kecil yang dibully ini dengan ringan hati membayari makanan pria perlente itu. Tak ada dendam di hati anak kecil ini, tetapi membalasnya dengan kebaikan. Juga cerita seorang anak yang malam hari setelah rapat IPM pergi ke alun-alun untuk membeli makan.

 Ia mendatangi seorang kakek penjual kacang. Ia menanyakan mengapa sudah larut belum pulang dan sang kakek pun menjawab bahwa dia tak mungkin pulang karena belum punya uang dan istrinya akan marah karena tak bisa belanja untuk esok hari. Anak ini pun jatuh iba dan memberikan uang satu-satunya miliknya yang berada disakunya sebanyak Rp 10.000,00 kepada sang kakek. Ia berpikir, masih ada orang yang lebih sulit dari saya.

Kisah-kisah ini menarik dibaca dan bermanfaat (Abdul Mu’ti, 2019). Seorang ibu wali murid di SD Muhammadiyah 4 Pucang yang membelikan buku untuk anaknya justru membacanya dan berurai air mata membaca ketulusan anak-anak PAY Sumenep.

 Maka ibu inipun berdonasi untuk anak-anak panti karena jatuh hati pada perjuangan anak-anak panti.
Cerita anak panti ini pun belum lengkap tanpa testimoni alumninya yang kini menjadi ketua umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Sunanto.

Keberadaan PAY Muhammadiyah Sumenep adalah gambaran dakwah Muhammadiyah di Pulau Madura. Menjadi Muhammadiyah di Pulau Madura dulu dianggap tak wajar atau aneh. Keberadaan panti menyambung cita-cita anak-anak Madura dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Cak Nanto pun menguatkan bahwa panti sebenarnya asrama untuk menyambung asa dan model orang tua asuh ke depan harus lebih dikuatkan.

Penulis:  Rita Pranawati Dosen UHAMKA dan komisioner Komisi perlindungan anak Indonesia ( KPAI)

TerPopuler